Jenis-jenis Tunadaksa Anak Berkebutuhan Khusus dan Karakteristiknya

Jenis-jenis Tunadaksa Anak Berkebutuhan Khusus dan Karakteristiknya

Gurubagi.com. Mendidik anak berkebutuhan khusus tunadaksa merupakan tantangan tersendiri bagi orang tua khususnya dan tenaga pendidik pada umumnya.

Anak berkebutuhan khusus tunadaksa merupakan kondisi terjadinya ketidakmampuan anggota tubuh dalam melaksanakan fungsi sebagai mana maestinya, karena kelainan atau kecacatan sistem otot, tulang atau persendian.

Ketidaksempurnaan anak tunadaksa ini hanya secara fisik, sedangkan fungsi pancaindra masih normal sehingga kelainan ini kerap disebut sebagai cacat tubuh, disabilitas fisikatau orthopedically handicapped.

Seseorang yang memiliki keterbatasan tunadaksa ini dapat melakukan rehabilitasi, sebagai sarana pemulihan penyandang cacat tubuhnya.

Baca :

Mereka dapat melakukan penyembuhan secara fisik, mental di tempat rehabilitasi, dan dapat bersosialisasi antar sesama penyandang cacat lainnya, sehingga menjadikan motivasi tersendiri untuk dapat menciptakan rasa percaya diri.

Jenis-jenis Tunadaksa

Berikut ini adalah jenis-jenis tunadaksa pada Anak Berkebutuhan Khusus.

1. Tunadaksa Ortopedi

Anaka tunadaksa ortopedi merupakan penyandang tunadaksa yang mengalami kecacatan pada bagian tulang, otot tubuh maupun persendian.

Jenis tunadaksa ini bisa terjadi karena bawaan sejak lahir atau akibat setelah mengalami penyakit atau kecelakaan.

Berikut merupakan jenis-jenis penyandang tunadaksa ortopedi.

a. Poliomyelitis

Poliomyelitis ini berasal dari infeksi virus yang bisa menular, akan tetapi dapat dicegah dengan melakukan imunisasi polio. Penyakit ini dapat menyebabkan kelumpuhan permanen

b. Muscle dystrophy

Penyakit ini membuat otot tidak berkembang, karena mengalami kelumpuhan yang bersifat progresif dan simetris, penyakit behubungan dengan keturunan.

c. Spina bifida

Jenis  penyakit ini terjadi karena fungsi jaringan saraf terganggu, sehingga mengakibatkan kelumpuhan.

2. Tunadaksa Saraf

Tunadaksa saraf terjadi, karena adanya kelemahan pada gerak dan fungsi salah satu alat gerak karena kelainan pada saraf di otak.

Berikut ini adalah beberapa tingkat kecacatan tunadaksa saraf.

a. Ringan

Tunadaksa tingkat ringan memiliki ciri-ciri seperti, dapat berjalan tanpa alat bantu, bicara jelas, dan dapat menolong diri sendiri.

b. Sedang

Ciri-ciri tunadaksa ini dimana seseorang membutuhkan bantuan untuk latihan berbicara, berjalan, mengurus diri, dan menggunakan alat-alat khusus.

c. Berat

Ciri-ciri tunadaksa berat, yaitu membutuhkan perawatan tetap dalam ambulasi, bicara dan anak tidak dapat menolong diri sendiri.

Karakteristik Anak Berkebutuhan khusus Tunadaksa

1. Karakteristik akademik

Pada umumnya anak-anak tunadaksa ini hanya mengalami kelainan pada sistem otot dan rangka, akan tetapi secara akademik mereka dapat mengikuti pelajaran sama dengan ana- anak normal lainnya.

Tingkat kecerdasan anak-anak ini bervariasi karena mengalami kelainan persepsi, kognisi, dan simbolisasi, sehingga kelainan yang kompleks ini akan mempengaruhi prestasi akademiknya

2. Karakteristik sosial atau emosional

Anak-anak ini pada umumnya mearasa rendah diri dan memiliki prilaku yang salah, karena mereka merasa dirinya cacat, tidak berguna, dan menjadi beban bagi orang lain .

Mereka tidak dapat melakukan kegiatan jasmani, yang menimbulkan problem emosi, seperti mudah tersinggung, mudah marah, rendah diri, kurang dapat bergaul, menyendiri, dan frustrasi.

Masalah karakter emosi seperti ini, sering dapat Anda temukan pada anak tunadaksa dengan gangguan sistem cerebral.

Oleh sebab itu, tidak jarang dari mereka yang memiliki rasa tidak percaya diri dan tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya.

3. Karakteristik dari fisik atau kesehatan

Selain mengalami cacat tubuh anak-anak ini cenderung mengalami gangguan lainnya, seperti kurang pendengaran, penglihatan terganggu, gangguan saat berbicara karena kelainan motorik alat berbicara.

Anak-anak ini mengalami kerusakan sistem motorik. Jika berdasarkan aktivitas motoriknya anak-anak ini dapat dikelompokan mejadi hiperaktif dan hipoaktif.

Hiperaktif merupakan kondisi di mana anak akan merasa tidak mau diam, atau gelisah, sedangkan hipoaktif menunjukkan sikap pendiam, gerakan lamban, dan kurang merespons rangsangan yang diberikan.

Demikian sekilas ulasan tentang jenis-jenis tunadaksa pada anak berkebutuhan khusus dan karakteristiknya. Semoga bermanfaat.

You May Also Like

Tinggalkan Balasan